Media Jabodetabek

Loading

Tren Baru: Bisnis Sustainable Fashion yang Jadi Incaran Investor

Tren Baru: Bisnis Sustainable Fashion yang Jadi Incaran Investor

Saat ini, dunia mode tidak lagi didominasi oleh fast fashion; sebaliknya, tren baru yang berfokus pada etika dan lingkungan, yaitu sustainable fashion, semakin menguat. Perubahan besar ini menjadikan bisnis fashion berkelanjutan sebagai magnet bagi pendanaan, terbukti dari meningkatnya minat investor global dan domestik. Lonjakan minat ini didorong oleh kesadaran konsumen yang tinggi serta kebutuhan industri untuk mengurangi jejak karbon. Artikel ini akan menganalisis mengapa sektor ini kini menjadi sasaran utama investor.

Ketertarikan investor terhadap sustainable fashion mencerminkan pergeseran nilai dalam pasar modal yang kini memprioritaskan faktor Environmental, Social, and Governance (ESG). Menurut laporan dari Asosiasi Modal Ventura dan Ekuitas Swasta Indonesia (AMVESINDO) per Oktober 2025, total investasi yang disalurkan ke sektor green economy, termasuk bisnis fashion berkelanjutan, telah meningkat 45% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini membuktikan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar isu etika, melainkan model bisnis yang menguntungkan.

Salah satu studi kasus yang menarik dari tren baru ini adalah merek lokal ‘EcoWarna’, yang berfokus pada pewarna alami dan zero waste production. Pada bulan September 2025, EcoWarna berhasil mengamankan pendanaan Seri A sebesar $5 juta dari konsorsium investor yang dipimpin oleh Ventura Hijau Asia. Modal ini digunakan untuk membangun fasilitas produksi yang sepenuhnya bertenaga surya dan untuk memperluas rantai pasokan bahan daur ulang. Keberhasilan EcoWarna menjadi bukti nyata bahwa bisnis fashion etis mampu menarik perhatian modal besar.

Faktor lain yang mendorong tren baru ini adalah regulasi pemerintah yang semakin ketat. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada Januari 2026 berencana mengeluarkan standar sertifikasi “Label Hijau” untuk produk tekstil dan garmen. Standar ini akan memberikan keuntungan kompetitif bagi pelaku sustainable fashion karena memudahkan mereka memasuki pasar ekspor yang semakin sensitif terhadap isu lingkungan. Kebijakan ini tentu saja meningkatkan daya tarik bisnis fashion ini di mata investor.

Meskipun potensi pasarnya besar, tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan skala produksi tanpa mengorbankan prinsip keberlanjutan. Biaya bahan baku daur ulang atau organik seringkali lebih mahal 20-30% dibandingkan bahan konvensional. Namun, dengan dukungan pendanaan dari investor yang kini masif, diharapkan terjadi inovasi teknologi untuk menekan biaya produksi dalam jangka panjang. Fenomena sustainable fashion ini menandakan babak baru di mana laba dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.