Media Jabodetabek

Loading

Fenomena Kecamatan Citayam Depok: Sisi Unik Pinggiran Kota

Fenomena Kecamatan Citayam Depok: Sisi Unik Pinggiran Kota

Dinamika sosial di wilayah pinggiran Jakarta selalu menyimpan cerita menarik yang sering kali tidak terduga arah perkembangannya. Salah satu kawasan yang namanya sempat meledak dan menjadi perbincangan hangat di tingkat nasional hingga melahirkan berbagai subkultur jalanan baru adalah wilayah yang sering dijuluki sebagai kecamatan citayam. Meskipun secara administrasi formal wilayah ini sebenarnya terbagi menjadi wilayah desa dan kelurahan di perbatasan antara Kabupaten Bogor dan Kota Depok, sebutan ini telah telanjur melekat erat di benak publik sebagai simbol gerakan ekspresi anak muda pinggiran kota yang mendobrak dominasi tren estetika pusat metropolitan.

Awal mula viralnya kawasan sub-urban ini tidak bisa dilepaskan dari peran penting moda transportasi massal berupa jalur kereta komuter (KRL Commuter Line). Akses transportasi yang murah dan cepat ini membuat anak-anak muda dari kawasan kecamatan citayam dan sekitarnya dapat dengan mudah melakukan migrasi harian menuju ruang-ruang publik modern di pusat Jakarta, seperti kawasan Sudirman. Di sanalah mereka menciptakan fenomena pameran busana jalanan dengan gaya pakaian yang eksentrik, berani, dan apa adanya, yang kemudian menjadi viral di berbagai platform media sosial karena dinilai sangat unik dan menghibur mata publik internasional.

Fenomena ini secara tidak langsung membuka mata para sosiolog mengenai adanya ruang kosong yang sangat besar dalam pemenuhan kebutuhan ekspresi dan rekreasi bagi remaja yang tinggal di wilayah penyangga ibu kota. Selama ini, pembangunan fasilitas publik yang estetis dan ramah pejalan kaki cenderung berpusat di tengah kota besar saja, sehingga anak-anak muda di sekitar kecamatan citayam merasa perlu mencari panggung mereka sendiri di luar wilayah tempat tinggal mereka. Keberanian mereka mengekspresikan diri tanpa rasa minder di tengah kemegahan gedung pencakar langit Jakarta adalah bentuk demokratisasi budaya fesyen yang sangat menarik untuk diamati.

Dampak dari viralnya fenomena ini ternyata juga membawa pengaruh ekonomi yang cukup signifikan bagi perkembangan ekonomi lokal di daerah asal mereka. Kawasan pinggiran yang dahulunya hanya dianggap sebagai daerah hunian kelas pekerja yang sepi, kini mulai dilirik oleh para pelaku usaha kreatif, pelaku kuliner kekinian, hingga konten kreator yang ingin berburu cerita autentik langsung dari akar rumput di wilayah kecamatan citayam. Industri konveksi lokal dan toko pakaian bekas di daerah tersebut juga mengalami lonjakan omzet penjualan karena meningkatnya minat remaja setempat untuk tampil modis dengan modal yang terbatas.