Media Jabodetabek

Loading

Alat Musik Tehyan: Jejak Budaya Tionghoa dalam Kesenian Gambang Kromong

Alat Musik Tehyan: Jejak Budaya Tionghoa dalam Kesenian Gambang Kromong

Jakarta merupakan wadah akulturasi budaya yang sangat kaya, dan salah satu bukti keharmonisan tersebut dapat ditemukan pada Alat Musik Tehyan. Instrumen musik gesek yang memiliki bentuk khas dengan tabung dari tempurung kelapa ini merupakan warisan budaya Tionghoa yang telah menyatu sempurna ke dalam kesenian khas Betawi, yaitu Gambang Kromong. Keberadaan instrumen ini memberikan warna suara yang melankolis namun ritmis, menciptakan perpaduan nada yang unik antara tangga nada diatonis Barat, pentatonis Tionghoa, dan laras tradisional Nusantara. Mempelajari instrumen ini berarti kita menelusuri sejarah panjang persaudaraan antar etnis di tanah Jakarta.

Secara fisik, Alat Musik Tehyan terdiri dari dua dawai yang digesek menggunakan busur yang terbuat dari rambut ekor kuda atau nilon. Bentuknya yang ramping dan sederhana seringkali menipu, karena untuk menghasilkan suara yang jernih dan berjiwa diperlukan teknik penjarian yang sangat mahir. Tempurung kelapa yang menjadi kotak resonansi memberikan karakter suara yang serak namun merdu, sangat cocok untuk mengiringi lagu-lagu klasik Betawi maupun lagu-lagu hiburan yang dibawakan dalam acara pesta rakyat. Keunikan suara inilah yang menjadikan tehyan sebagai roh dari pertunjukan Gambang Kromong yang tidak dapat digantikan oleh biola modern.

Dalam sejarahnya, Alat Musik Tehyan merupakan bagian dari keluarga instrumen musik gesek Tionghoa seperti Erhu atau Sukong, namun telah mengalami adaptasi lokal di Betawi. Penggunaan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti kayu nangka dan tempurung kelapa, menunjukkan proses pribumisasi kebudayaan yang sangat alami. Kehadirannya dalam setiap perayaan pernikahan atau perayaan Cap Go Meh menunjukkan betapa eratnya hubungan sosial antara warga keturunan Tionghoa dengan masyarakat asli Betawi. Musik menjadi jembatan yang meruntuhkan sekat perbedaan, menciptakan identitas budaya baru yang inklusif dan harmonis.

Sayangnya, keberadaan Alat Musik Tehyan saat ini mulai terancam karena semakin sedikitnya pengrajin yang mampu membuat instrumen berkualitas tinggi, serta minimnya generasi muda yang tertarik mempelajarinya. Sebagian besar pemain tehyan saat ini sudah berusia lanjut, dan tanpa adanya upaya regenerasi yang serius, dikhawatirkan suara gesekan dawai yang khas ini akan hilang dari panggung kesenian Jakarta. Diperlukan perhatian dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun komunitas seni, untuk mengadakan pelatihan-pelatihan khusus guna membangkitkan kembali minat anak muda terhadap instrumen yang sarat akan nilai sejarah ini.